CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 12 Juni 2013

Negeri di Ujung Langit



Semalam tadi langit menangis
    isak gunturnya terdengar menggelegar kesana kemari
      Bedakan rasanya saat kita menabur segenggam garam dalam luasnya telaga,
           dan saat kita menabur segenggam garam dalam cangkir kopi ukuran sedang.
                  Yang satu akan tetap terasa tawar,
                         dan yang satu laginya akan terasa asin hingga terasa pula kepahitannya.

Negeri di ujung langit,
      disaksikan oleh gambar yang nampak pada layar digital
            hasil bidikan manusia kurang kerjaan.
                   Negeri di ujung langit, tak pernah menyentuh langit
                          namun tetap memijak bumi.
                                 Saat lembutnya ujung langit menyentuh gerak – geriknya biru kami. 
                                          Aku berlari menuju negeri di ujung langit



Senin, 03 Juni 2013

Muslimah dan Kaos Kaki^^


Tentang sepasang benda yang selalu berjalan beriringan membentuk alunan irama tapak – tapak perjalanan.
Siapa yang tak tahu benda menyejarah ini? Kayaknya dari jaman TK bahkan jaman baheula dari kita bayi sudah mengenal benda yang dipasangkan dengan kaki kita sebagai pelindung, penghangat atau pengaman dari serbuan nyamuk – nyamuk usil saat kita tidur (*curhat. Hihi). Seiring berjalannya waktu, semakin bertambahnya usia tibalah saatnya dimana kita sebagai muslimah menggalami masa baligh. Iya, masa dimana kita harus menanggung sendiri semua akibat dari perbuatan yang telah kita lakukan. Ini tentang AURAT (ngeriii euy, tapi pastinya neraka bakal lebih ngeriii)..

Udah rapi – rapi, cantik – cantik pakai jilbab, baju panjang nan anggun, pakai rok yang bikin tambah manis, tapi sayang kan ya pas lihat ke bawah ternyata kaki cantiknya kelihatan. Mmmm.. yuk jangan tanggung – tanggung untuk menutupnya, ditutup pakai kaos kaki. Insya Allah banyak manfaatnya. Diantaranya yang sungguh – sungguh saya rasakan adalah yang pertama kita sudah aman Insya Allah dari perintah untuk menutup aurat, kan disuruhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki selain muka dan telapak tangan (berarti kaki juga ditutup dong)^^, kedua kaki saya nggak luka (luka pun sedikit) saat dulu pernah kecelakaan di jalan raya. Paling enggak kaos kaki kan bisa melindungi kulit dibandingkan kulit kaki langsung “ngegusruk” (ngegusruk itu apa ya? Mungkin semacam bertubrukan langsung kali yah..) kena aspal (safety coy)  :p . Yang ketiga menghindarkan atau meminimalisir kulit dari keadaan belang bentong. Hehe. Insya Allah mendingan deh kalau pake kaos kaki, kakinya jadi nggak gosong – gosong amat :) Keempat, Insya Allah kita juga ikut membantu lawan jenis kita untuk menjaga pandangannya. Walaupun kaki loh ya. Kan orang bilang bahwa kaum adam itu memiliki tingkat imajinasi yang tinggi, makannya daripada nanti mereka berimajinasi yang enggak – enggak, mending kita juga ikutan bantu mereka dengan menjaga aurat kita. Yang ke lima sampai seterusnya jawab sendiri aja ya. Oke sip!!!!

Kaos kaki itu diinjak – injak, dipakai dikaki (yaiyalah, kalau dipasang di tangan namanya kaos tangan). Tapi saya yakin beliau (kaos kaki) sangat merelakan diri walalu terinjak – injak asalkan dapat bermanfaat bagi manusia apalagi untuk menunaikan perintah Rabb-nya. Tapi saya juga yakin kaos kaki itu sangat keberatan nempel terus dikaki kita jika harus bernapas sesak akan aroma yang mencemar. Kita aja ogah apalagi beliau sebagai kaos kaki yang notabene adalah dirinya sendiri.

Hujan dan gerimis masih kompak mengguyur bumi Jogjakarta hingga bulan Juni ini. Mungkin pelajaran IPA yang dulu kita pelajari selagi SD sudah tidak berlaku lagi tentang teori yang mengatakan bahwa musim hujan akan terjadi pada setiap bulan yang berakhiran dengan “ber” (misalnya SeptemBER, OktoBER dan sebagainya). Nyatanya puisi salah satu maestro sastra Indonesia “Tak ada yang lebih indah dari hujan bulan Juni....” benar – benar terjadi. Maksudnya bulan Juni ini masih ada hujan juga. *apasih
Intensitas curah hujan yang tidak menentu tentunya akan sangat berpengaruh pada stok persediaan kaos kaki para muslimah nu geulis tea (asiiikk lah). Jemuran di lantai 4 akobang sendiri mulai ramai dengan kibaran – kibaran kaos kaki warna - warni (*curhat lagi)  Oh iya, kenalan dulu ya, akobang adalah julukan bagi penghuni kosan saya atau biasanya malah dipakai sebagai nama kosan, yang  singkatan dari Anak KOsan pak bamBANG (AKOBANG), kayaknya udah mulai terkenal juga dibeberapa anak UGM. Haha *nggak penting

Balik lagi ke kaos kaki. (serius). Karena begitu urgent nya ini kaos kaki dalam kehidupan keseharian kita yang penuh dengan aktivitas padat nan melelahkan (lebay). Makannya kita harus mensiasati agar kaos kaki tercinta kita tetap dalam kondisi ADA, BERSIH dan SIAP PAKAI. Dan harus benar – benar dipastikan untuk nggak sampai kehabisan gara – gara basah belum dicuci masih ngajogrok di tempat cucian lah, masih basah ngegantuung dijemuran, ilang lah. Halaah halaaaahhhh. Bukannya seorang muslimah itu rapih, suka merawat dan perhatian pada hal – hal kecil ya? ehehehe :p

Untuk menanggulangi hal tersebut, saya sarankan kita perlu memiliki kaos kaki sejumlah hari yang ada dalam satu pekan, iya berjumlah 7. Hehehe, Ini bener – bener kebangetan kalau udah punya 7 tapi masih ada alasan kehabisan. Dan benar – benar sangat kebangetan (udah sangat, pake banget pula) kalau dalam se-pekan itu kita nggak nyentuh buat nyuci yang namanya kaos kaki. BTW kenapa 7? Pertama tujuh itu angka ganjil. Haaha yang kedua ya itu paling enggak kita punya persediaan kaos kaki bersih dalam keadaan kepepet (kalau nyucinya cuma sepekan sekali). Ketiga untuk jaga – jaga kalau dalam keadaan darurat, misalnya : musim hujan. Sebenarnya nggak mesti 7 sih, itu cuma saran aja kok^^

Oke, dengan sebegitu urgent-nya kaos kaki jangan sampai kita mengabaikan kebersihannya. Jangan – jangan karena saking cintanya samapai nggak pernah mau dilepas. Hujan badai dihadapi bersamanya, suka duka dilalui bersamanya. Heeyyy,, inget ya kita punya tetangga. Tetangga sebelah yang masih punya hidung untuk mencium bau – bauan. Jangan sampai kita mendzolimi mereka dengan kerjasama antara dirimu dan kaos kaki tercinta yang menghasilkan bau ‘semriwing’ yaaa :3. Saya menyarankan lagi kalau bisa SETIAP HARI KAOS KAKINYA DIGANTI. Kan kalau bersih dipakenya nyaman tho, jadi PD lagi. Kan kita punya 7 kaos kaki tuh, ya pokoknya gimana caranya biar terjaga ketersediaannya deh.. (mulai deh bawel kayak emak2.. XD).

Karena Islam juga mencintai keindahan dan kerapihan jangan sampai kita menaruh kaos kaki bekas dipakai bersebaran dimana – mana ya.. Kasihan, jangan sampai lingkungan kita terkontaminasi.. hehehe..
Kalau kata embak guru (murabbiyah) saya :
Karena Islam itu mudah, jadi jangan dipersulit
Karene Islam itu tidak sulit, jadi jangan terlalu dimudah – mudahkan :)

*gambar dari googling

Minggu, 02 Juni 2013

Diamnya Duo Ceriwis :p


Bersama gemerlap jalan C. Simanjuntak kita menyinggah sebentar dari perdebatan alot kata “terserah”. ‘Terserah mau makan malam dimana.” Kalimat itu yang pasti akan terucap diantara kita. Seperti biasa aku beri pilihan dan kau yang menentukan. Salah satu tempat makan andalan yang kami sepakati rasa sayur asem nya yang mak nyuuss :D

Jika engkau tahu, aku hanya berpura – pura untuk melakukan itu. Iya ceriwis yang seperti biasa aku tampakkan, bawel yang biasa aku tunjukkan, banyak omong yang biasanya memusingkan. Hahaha. Kali itu aku ubah hanya dengan diam. Diam dan diam. Walau sebenarnya kita memang duo ceriwis yang tak kan pernah habis. Haha

Bukan karena pertanyaan yang tak terjawab, bukan karena pilihan yang tak terpilih. Sungguh ini hanya sekedar main – main. Hanya sekedar mencari tahu seberapa besarkah tingkat kegengsian-mu. Ah ternyata memang benar, gengsimu mengalahkan keceriwisanmu. Hehehe

Aku sengaja berlama – lama untuk diam tak mengajakmu pulang. Benar saja dugaanku, kita akan saling tunggu untuk berbicara. Hahhaha duo ceriwis yang mendadak jadi alim aneh juga ya rasanya. Lama , lama dan lama. Ya, memang aku sengaja. Sengaja ingin berlama – lama denganmu. Sengaja ingin berlama – lama sesekali dengan curi – curi pandang akan makhluk yang sungguh sangat gengsian didepanku. Betul itulah engkau..

Hingga alunan musik terdengar dan penyanyi yang menyanyikan lagu romantis berkisah tentang lirik yang disampaikan, engkau masih diam. Kita berdua pura – pura sibuk main hape, sesekali merubah posisi duduk, sesekali tengok kanan – kiri mencari tempat terbaik mata untuk berlabuh memandang. Lucu ya.. Kita diam diantara keramian. Dan aku diam – diam mengabadikan wajah kesalmu lewat kamera hape ku.

Mungkin engkau merasakan rasa sebal. Tapi tidak denganku, karena aku sengaja. Ya aku sengaja ingin berlama – lama bersamamu. Karena momen ini tak kan bisa terulang lagi, kalaupun terulang maka akan berbeda rasanya. Berbeda saat engkau sudah diambil orang asing, atau saat aku pun sudah diambil oleh orang asing. Karena aku percaya ada janji perpisahan di setiap pertemuan.

Sekali lagi bukan karena apa – apa. Aku hanya ingin tau gengsimu..

Dan sungguh sekali lagi, aku hanya ingin berlama – lama denganmu, walau untuk sekejap :)
Dihari ke 2 bulan Juni ^^ Lucunya malam ini...

Dan diseberang sana engkau masih terdiam, sementara aku cengengesan menuliskan kisah kita di malam Senin.. XD

i love u cz Allah emba depiiiiii^^ suatu saat mungkin kau akan membaca catatan ini :p

Sabtu, 01 Juni 2013

Dzikrul Maut


Mengingat perkara kematian maka sejatinya mati itu pasti akan datang menjelang. Entah berapa puluh tahun lagi, berapa bulan lagi, berapa jam lagi atau setelah menyelesaikan tulisan ini saya tetiba sudah  mati bahkan ketika belum sempat menyelesaikannya saya sudah mati. Siapa yang tahu?

Mati adalah suatu kerinduan bagi jiwa – jiwa yang senantiasa mempersiapkan segalanya dengan matang dan baik. Ya, adakalanya mati itu bisa dibilang seperti  ujian pendadaran untuk memperoleh gelar sarjana. Siapa yang mempersiapkan dengan baik tidak akan merasa takut, tidak merasa khawatir kapan ujian pendadaran itu akan datang. Karena dia sudah SIAP. Mati juga adakalanya seperti pretest yang diadakan dosen di awal kuliah. Siapa yang malamnya terlebih dahulu sudah belajar, maka dia akan bisa melalui ujian itu dengan santai dan percaya diri.
Beda pasal saat kita menghadapi kematian. Jika ujian – ujian di dunia banyak yang menghasilkan nilai – nilai prestasif yang dibuat oleh manusia, maka mati sama sekali tidak. Mati mutlak ditentukan oleh Allah kepada si cantik, si tampan, si kaya, si miskin, si cerdas ber IPK 4, semuanya. Semua pasti mendapat giliran itu. Tinggal menunggu waktu, siapa yang  terlebih dulu melaju. Yang tua tidak akan bisa menjadi patokan bahwa yang tua yang akan terlebih dahulu mati. Tidak, tidak sama sekali. Kita mengantri, seperti orang yang mengantri pada kasir. Tidak peduli tua muda, semuua sama dalam antrian.

Jangan dikira saat ini badan kita bugar, sehat dan kesuksesan yang semakin meroket membuat mati kita semakin menjauh. Berfikir “nanti saya mati dikala usia senja, tertidur abadi di atas ranjang empuk disertai senyuman” itu hanya ada dalam dunia dongeng. Nyatanya Rasulullah yang sudah terjamin surga saja masih bisa merasakan rasa sakit. Sakit yang teramat saat nyawa mulai terangkat. Jangan dikira saat umur kita masih muda belia, kuat bisa berlari sejauh yang kita mau maka mati akan menghindari umur muda kita. Sepatutnya kita berkaca pada anak – anak yang tak berdosa, yang belum tahu hakikat hidup sebenarnya. Yang mereka tahu Islam adalahh kemuliaannya. Iya, anak – anak kecil Palestina yang sudah berjuang sedemikian rupa. Sepatutnya kita mengambil pelajaran terhadap tokoh – tokoh yang tersiarr di TV banyak dari mereka yang masih muda, sehat bugar kemudian tetiba mati. Sesungguhnya tindak – tanduk kita hanyalah butir – butir debu yang terhempas jika tanpa ada daya dari Allah Sang Maha Penentu. Semesta ini selalu mengajarkan...

Betapa kematian adalah sesosok waktu yang paling dekat dengan kita. Tak pandang kita ada di kampus, di rumah, di pasar bahkan di masjid sekalipun dia setia membersamai kita. Tak pandang hari, tak pandang minggu, tak pandang bulan bahkan dalam cacahan per mikro sekonnya dia membersamai kita. Tak peduli kita akan berakhir dalam keadaan apa, bersama siapa, dimana dan bagaimana prosesnya. Sayangnya betapa sering kita mengabaikan, menganggapnya jauuuuuh bahkan dalam hitungan hari kita mudah sekali untuk melupa. 

Sementara 24 jam kita sama, bumi kita masih sama – sama berotasi  sama sama masih mengelilingi matahari. Tapi kenapa pada babak akhir akan ada yang syahid dan ada yang tidak. Ah, bukankah Allah adalah sebaik – baik penentu? Tugas kita hanyalah berusaha, berupaya dan berdoa.
Mati itu pasti.. Sudah seberapa beratkah bekal ini?
Semoga kita bisa mempersembahhkan akhir yyang terbaik..
Astaghfirullah.. laailaaha illa anta subhanaka inni kuntu minazhaalimiin..           


:. Teruntuk saudari seimanku tersayang, betapa aku ingin segera pergi kesana untuk menghapus air matamu. Merengkuhmu. Semoga beliau ditempatkan pada tempat yang terbaik disisi Allah.. Sabar ya...

sumber gambar dari sini